My Thanks to You

Travel Unites

“Rest and be thankful.”
 

I want to thank you, gentle readers, for putting up with me in this space throughout the year, and for keeping me in mind as your valuable resource whenever you need help with travel. No doubt you have discerned by now that there are more things on my mind than selling travel — although I am always happy to do that.

If I can use this space to promote good will and understanding between people who might not meet otherwise, I will be glad.

If I can convince you to get out there and experience something new in the days remaining to you, I will count that as encouragement to me and as a nudge toward the improved alignment of the world.

Small acts such as selecting an enlightening trip can, in my opinion, have larger consequences down the road. If we…

View original post 134 more words

KARDIOVASKULAR

Jantung . . .

Engkau memompa darah yang disusun Jaringan Ikat

Lapisan Epikardiummu disusun Jaringan Ikat

Miokardiummu mengatur kecepatan denyut

Selapis jaringan Endoteliummu membentuk Endokardiummu

 

Bagian dalammu terdapat sekat dinamakan Septum

Membagimu menjadi sisi kira dan kanan

Engkau memiliki dua serambi atau Atrium

Terdapat juga dua bilik atau Ventrikel di dalam

 

Saat serambimu berelaksasi, bilikmu berkontraksi, begitu sebaliknya

Serambimu berelaksasi secara bersamaan menerima darah dari vena

Serambi kiri dari Vena Pulmonari, serambi kanan dari dua Vena Kava

Penutup Trikuspid dan Bikuspid mencegah darah balik ke serambi

Penutup Semilunar mencegah darah balik ke dalam bilik

 

Peredaran Pulmonari miskin akan Oksigen

Peredaran Sistematik kaya akan Oksigen

Keduanya terdapat pada Pembuluh Darah

Arteri yang membawa darah keluar

Kapiler menukar cairan dengan zat Darah

 

Plasma, Leukosit, Trombosit dan Eritrosit jenis dari darah

Berfungsi sebagai Pengangkut dan Pertahanan Tubuh

A, B, AB, dan O merupakan golongan dari darah

Jika sejenis bertemu, maka akan terjadi penggumpalan

Aglutinogen digumpalkan, Aglutinin menggumpalkan

 

Semuanya oleh kinerja SISTEM KARDIOVASKULER

 

Berhentilah Menjadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, Nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?” Sang guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh.
“Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. “Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.

“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya,

“Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.

Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?” kata guru.

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.

“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hatimu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

Beratkah Bebanmu

Beratkah Bebanmu

Teringat Masa Laluhttps://siholbb.files.wordpress.com/2013/11/dr.jpg

Toga melekat di badanku dan aku sedikit canggung memakainya. Tak ku sangka, ternyata mimpi yang sejak dulu aku inginkan malayang begitu saja demi mendapat sarjana Kedokteran ini.

Teman-teman dengan gembiranya berfoto dan mencari papan bunga yang indah untuk dijadikan latar. Nmaun aku, aku hanya duduk di taman yang selama ini menemaniku dan sebagai saksi mati atas Intuisi yang telah aku tuangkan dalam coretan karya sastra. Ingin rasanya aku memutar roda ini dan menempel bocoran dari kesalahan-kesalahan yang terlanjur terjadi itu. Sepi. Hening. Saat-saat yang paling kusukai.

Aku teringat saat itu. Saat mama dan papa melontarkan kata-kata yang luka sayatannya mengubah indahnya impianku. Menyayat segala semangat ini dan mengubahnya menjadi kepingan impian yang tak kuinginkan sama sekali. Aku benci saat ini. Aku benci gelar yang kudapat ini. Aku benci diriku yang dengan mudahnya terombang-ambing oleh keegoisan papa-mama.

Saat itu, tepatnya hari yang ditunggu-tunggu para siswa, aku malah tidak semangat pada hari itu juga. Dengan malasnya, kaki yang terasa berat ini berhasil juga aku ayunkan hingga sampai ke rumah. Laptop yang selalu stand-by, kubuka dengan perlahan-lahan dan mulailah jemariku menari diatas tuts keyboard. Masih beberapa kalimat aku mengetiknya, Papa dan mama memanggilku. Belum sempat aku menutup pintu kamar, semburan kritikan itu membuat saraf mataku terkontak dan air mata perlahan membasahi pipiku. Aku ingat betul kata-kata sepuluh tahun lalu yang mengubah masa depanku itu. Tak terlupakan semuanya. Papa dengan marahnya membandingkanku dengan kak Joshua, putra kesayangannya.

“John, sia-sia papa menyekolahkanmu dan membuatmu mengikuti bimbingan belajar kalau toh kamu mendapat nilai seperti ini. Lihat kakak kamu! Dia bisa sekolah di fakultas kedokteran itu karena apa? Karena dia pintar. Beda dengan kamu.”

Pembedaan inilah yang membuat aku risih. Dengan berlinang air mata, aku menjawab; “Pa, aku punya Impian sendiri. Aku punya keahlian sendiri yang selama ini papa gak mau tahu. Kenapa sih papa lebih memaksakan pelajaran daripada bakatku? Keahlianku bukan dalam pelajaran pa, tapi aku . . .” kata-kataku terhenti dengan omelan papa; “Ala, apa itu bakat? Tidak ada arti semuanya itu. Pokoknya papa tidak mau tau. Kamu harus ngikutin kakakmu.”

“Tapi pa, aku gak niat jadi dokter. Aku . . . ”

“Pokoknya papa gak mau tau. Kamu harus jadi Dokter. Titik.”

Sejak itulah cita-citaku untuk jadi sastrawan melayang. Janjiku untuk meneruskan umur seribu tahun Chairil Anwar kutarik kembali. Impian itu hanyalah khayalan saja. Tak mungkin dapat kuraih lagi.

Tiiittttt . . . tiitt . .

Suara klakson mobil menyadarkanku dari lamunan yang menghipnotis mataku mengeluarkan cairan membasahi pipi. Tiba-tiba, seorang gadis keluar dan berkata “Selamat siang pak Dokter! Selamat yah John dah jadi Dokter. Gak ada rencana untuk ngerayain dek?” Kak Vony menyapaku dengan hangat.

Sosok wanita yang aku benci. Karena dia, gelar penyair muda itu melayang. Kak Vony mulai mendekat dan sudah di hadapanku. Sambil duduk di sampingku, dia berkata; “John ayolah! Sampai kapan kamu mau menyimpan dendam itu? It was ten years John.” Dia mencoba membawaku dalam permohonannya.

Tangannya mulai menyentuh bahuku. Namun dengan sedikit kesal, aku langsung menepisnya dan menghadap ke arah samping seraya menghiraukannya. “John. . .” katanya lagi tanpa bosan. Aku heran dengan sesosok manusia yang kini telan disampingku ini. Apa dia kurang puas dengan keberhasilannya sepuluh tahun yang lalu? Mau apa dia sekarang?

Tak hentinya kak Vony terus mengajakku untuk berbiacara. Sekarang ia telah duduk disampingku. Tepat menghadapku. Dia mulai memegang tanganku yang secara refleks aku menariknya. ” John, ayolah. Sampai kapan kamu berpikiran sesempit itu John? Lupakanlah kejadian itu. Sudah sepuluh tahun John.”
“Lupakan? Lukan kakak katakan? Gampang yah kakak mengatakan itu dengan tidak merasa bersalah.” dengan marahnya aku berdiri dan memuntahkan kata-kata yang dari tadi sudah menyesaki hatiku. ” Usahaku untuk mengikuti kontes itu sia-sia. Aku udah bolos les, ngurusin data-data kesana-sini sampai aku gak dikasih masuk oleh pak MB. Tapi apa . . .” sontak aku menghentikan kata-kataku. Emosiku mulai kuredam. Bagaimanapun juga gadis ini pernah menempati ruang di hatiku.

“John, kakak nyesal melakukan itu. Kakak nyesal John” Kak Vony mulai menitikkan air mata.
“Kak, seandainya hanya puisi itu yang kakak kasih untuk dia, itu gak jadi masalah untukku kak. Tapi kakak tahu kan? Cerpen itu, aku sudah lama mengarangnya kak. Bahkan kakak tahu kan kalau aku sudah membuatnya lebih dari 32 bab. Aku mau membuatnya jadi novel kak. Mengapa kakak dengan mudahnya memberi buku itu? Aku rela kehilangan kejuaraan mengarang puisi di skolah. Aku juga rela kehilangan kejuaraan pada kontes itu. Tapi kak, aku gak rela jika aku kalah sementara yang menang itu memakai hasil karyaku. Aku sudah berusaha mengarang cerita baru supaya untaian novelku itu aku jadiin buku nantinya. Tapi kakak sangat sayang dengan dia. Sampai kakak rela ngecewain aku.” Nadaku mulai kurendahkan walau masih terdengar kekecewaan disana.

“John, kakak minta maaf yah dek. Kakak nyesal John.” nadanya membujuk.

“Sudahlah kak sudah terlanjur. Gak ada yang perlu disesali.” bangkit dari bangku. “Aku duluan yah kak.” meninggalkan Vony yang berusaha menarik lengannya.

 

***

 

Lelah merasuki pria yang telah bergelar Dokter ini. Sehabis mengadakan syukuran tadi siang, John lebih memilih untuk tinggal di kost daripada pulang ke rumah bersama orangtua dan kakaknya. Curhat dengan laptop Acernya menjadi keasyikan sendiri. Mungkin beradu dengan otak kanan menjadi pilihan yang tepat untuk menghilangkan kekesalannya. Pada dirinya. Bukan pada orang lain.

Ttrrrttt . . .  ttrrrrrt

Suara ponsel menuntutnya harus  meninggalkan kesenangan itu.

“Halo, selamat malam!” nadanya ramah.

“Selamat malam pak. Ini dari rumah sakit meminta bapak segera datang. Baru saja ada kecelakaan kereta. Kita kekurangan tenaga medis.”

“Iyah mbak saya berangkat sekarang.” Tut.. tut. Ponsel ditutup. John bergegas mengambil kunci motor dan berangkat.

 

***

 

“Dokter John, pasien di kamar UGD belum semua ditangani pak.” suster Leli menghampiri John yang baru sampai.

“Ambil catatan suster, kita memeriksa pasien itu.” tegas John mengomandoi tanpa berhenti berjalan. Walau dia benci dengan profesi ini, John menyadari pentingnya dirinya bagi setiap jiwa yang terus berharap untuk sebuah kesembuhan. ‘Nyawa para pasien ini ada di tanganku’ itulah prinsip yang membuatnya melupakan sejenak keegoisannya.

“Suster, pasang selang in-fuse pada pasien. Pasien masih dalam keadaan shock. Amati terus keadaan pasien sampai pasien sadarkan diri.” John mulai mengintruksi dengan sedikit membantu suster Leli memasangkan selang in-fuse.

Lorong demi lorong ia telusuri. Sedih melihat para pasien yang sedang terbaring lemah. Perlahan dia memeriksa pasien denga stetoskop satu persatu. Syukur tidak ada korban jiwa.

“Doter, pasien yangdi ruang UGD tadi sudah siuman dok.” suster Leli menghampiri John yang sedang menggendong seorang balita -anak dari korban-

“Baiklah. Terimakasih suster.” perlahan dia mengecup kening gadis kecil yang digendongnya dan menurunkannya.

Image